horas

HORAS..!
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

Minggu, 29 Mei 2011

Tarombo Sidauruk (Maruhum Sidauruk) dari Generasi ke generasi.

Sekelumit Silsilah/Tarombo Maruhum Sidauruk dari Siraja Batak:

SiRaja Batak:

Raja Isumbaon:

Tuan Sori Mangaraja-NaiAmbaton: 

Tuan Sorba di Banua- Silo Raja SiAmbaton:
(Tamba atau Munthe Tua,yang menjadi pro kontra sebagai leluhur Garis Patrilinial Sidauruk):

Raja Siteppang :? (sda)

Sitanggang Silo:

Raja Pangadatan: (ada yang bilang dari Simanihuruk,Cuma aku kurang yakin).
Pane Bolon_Raja SIDAURUK/Ompunta SiTungko nabolon.
0. Op. Sidauruk/br. Sihaloho?? :
         1. Op. Jabonar/br. Sinaga
                  2. Op. Janatikkos/br. Sihaloho
                     3. Op. Mularaja/br. Sihaloho
                                    4. Op. Bona Oloan/br Purba
                                              5. Op. Pintu Batu/br. Sihaloho :
                                                      6.1. Op. Pilian Ni Aji

                                                            /br. Purba(Simanindo)

                                                              
                                                       6.2. Op. Jaimbo/Br Hotang,br. Silalahi, 

                                                              Br. Manik,...??(Raut Bosi)
                                                                     
 


Hita sian Pinopparni Op.Jaibbo ima 6 anakna ima:
1. Op. Mataniari, 2. Op.Saloppoan, 3. Op.Marhalioho, 4. Guru Sumuttul, 5. Guru Sosuharon, 6. Op. Bul bul.
Alai molo dihuta ta no 1s/d 3 do sering dijouhon dipesta alasanna no 4,5,6 lahir diluar simanindo ninna.  

Dan di Sinuan adalah Ompung kami yaitu no dua Ompu Sohalompoan.

Sementara no satu Ompu Mataniari dan no tiga Ompu Marhalioho tinggal di Raut Bosi.  

 Kami sendiri di Sinuan, 
Jadilanjutma muse Pinopparni Op. Saloppoan 5 ima:


1.Op. Janame, 2. Op. Ruma Debata (inilah kami sendiri)3. Op.Sahang , 4. Op.Toba, 5. Op.Dumohor.

Aku sendiri dari:
Ompu Ruma Debata;

Ompu Pira:

Ompu Toga Monang:

Ompu Togi:

Maruhum Sidauruk(ahu sendiri)  


Namun ada informasi dari Amparanta Dian Sidauruk dari Bali,yang pantas juga kita perhatikan dan pertimbangkan sebagai bahan pelengkap penelitian. Karena masih banyak juga yang perlu diperhatikan  kejanggalan setiap sumber dan data yang sudah ada dan tersebar hingga saat ini:

Raja Isombaon (Raja Isumbaon atau Raja Sumba) memperanakkan Tuan Sori Mangaraja.
Tuan Sori Mangaraja mempunayi 3 orang istri yaitu:

1.Siboru Biding Laut yang setelah mempunyai anak berubah panggilan menjadi Nai Ambaton.
2.Siboru Anting Malela yg setelah mempunyai anak berubah panggilan menjadi Nai Rasaon.
3.Siboru Sanggul Haomasan yg setelh mempunyai anak berubah panggilan menjadi Nai Suanon.

1. Nai Ambaton mempunyai anak yaitu Tuan Sorba Di Julu yang bergelar Ompu Raja Bolon (Nabolon)

2. Nai Rasaon mempunyai anak yaitu Tuan Sorba Di Jae yang bergelar Raja Mangarerak.
3. Nai Suanon mempunyai anak yaitu Tuan Sorba Di Banua (tidak diketahui gelarnya)

Note: Siboru Biding Laut dan Siboru Anting Malela adalah putri kedua dan ketiga dari Guru Tatea Bulan sedangkan Siboru Sanggul Haomasan tidak diketahui puri siapa dia. Sedangkan putri pertama dari Guru Tatea Bulan adalah Siboru Pareme yang menikah dengan saudara kandungnya yaitu Tuan Saribu Raja. Ingat babiat sitempang dan ende Siboru Pareme? Putri ke 4 dari Guru Tatea Bulan adalah Nan Tinjo (marporhas atau martihas: laki nggak perempuan juga nggak). Guru Tatae Bulan mempunyai 4 putri.


Versi I (diterima mayoritas Parna) adalah: Tuan Sorba Di Julu (Ompu Raja Bolon) mempunyai 4 anak yaitu: Simbolon, Tamba, Saragi dan Munte. Dari Simbolonlah lahir Nahampun yang sekarang ada di Barus bersama semarganya yaitu Tendang, Parmesawari, Barasa dll. (saya lupa). Buku tarombo ini dipinjam orang dari saya tapi tidak dikembalikan. Dasar pangoto-otoi, mauf ma i.


Versi II (hanya sedikit yang menerima ini dan penerimaan inipun hanya sebagai penghargaan terhadap suatu pendapat) adalah : Tuan Sorba Di Julu (Ompu Raja Bolon) mempunyai 5 anak yaitu: Simbolon, Tamba, Saragi, Munte dan Nahampun (Sianahampun).Versi inilah yang mengatakan bahwa Siallagan, Simarmata, Siadari, Sidabalok, Turnip, Sidauruk dan Sitio adalah garis keturunan dari Datu Parngongo atau Datu Porang Ni Aji atau Raja Sitempang. Datu Parngongo adalah generasi ketiga dari Tamba. Note: Dalam versi ini Turnip adalah abang-nya Sidauruk.


Note: Di Sangatta, Kaltim ada seorang Nahampun dan mengaku bahwa mereka dari Simbolon. Di Jakarta saya bertemu dengan seorang Nahampun tapi sudah sedikit lilu tapi masih mengaku dari Simbolon. Di Sangatta, Kaltim ada seorang Barasa mengaku bahwa mereka dari Naibaho. (pergeseran dari Barasa ke Naibaho mungkin bisa terjadi karena ada Sidauruk kelompok Naibaho yaitu Naibaho Sidauruk). Di Bontang, Kaltim ada seorang Barasa mengaku bahwa mereka Parna.


Note: Nai Ambaton bukan Raja. Dia perempuan sama dengan Nai Rasaon dan Nai Suanon.


Informasi dari:
Saudara kita Freddy hasiholan Sidauruk,

Ada beberapa bagian hampir sama dan sedikit perbedaan yang saya dengar dari punguan Parporata (Parsadaan Pomparan Raja Sitelpang / Sitanggang). Ini salah satu versi lainnya untuk menambah wawasan kita mengenai berbagai versi Silsilah Sidaur...uk. Mengenai versi tersebut, alangkah baiknya jika yang memiliki informasi lebih lanjut agar disampaikan dalam forum ini. Parporata merupakan Parsadaan yang diakui Parna terkait untuk mengantisipasi perselisihan masalah siapa siakkangan antara Sitanggnag atau Simbolon. Punguan ini didirikan pertama kali di Sumatera Utara.

1. Versi Mengenai Sitanggang:

Sitanggang (menurut Parporata) katanya tidak masuk keturunan Munte Tua, tapi dari garis keturunan (pihak ibu?) yang lain dan sederajat dengan 4 bersaudara Simbolon, Munte, Saragi dan Tamba. Makanya pada sering terjadi kasus perselisihan mengenai silsilah antara Sitanggang dan Simbolon. Sewaktu merantau dulu sering saya jumpa ada beberapa pihak Sitanggang yang tidak bersedia dan secara keras menolak masuk Parna jika mereka dimasukkan dalam garis keturunan Munte.

Silsilah Sitanggang (lebih jelasnya ditanyakan ke mereka) dimulai dari Raja Sitelpang yang merupakan anak dari yang lahir terakhir dalam kondisi cacat (timpang) dari istri pertama Raja Siambaton (Nai Ambaton adalah ibunya Raja Siambaton (?)), Istri Siambaton yang kedua melahirkan Simbolon Tua yang pertama kali, kemudian Munte Tua pada istri lainnya, begitu seterusnya sesuai versi diatas sampai kemudian Raja Sitelpang yang terakhir lahir dari istri pertama. Raja Sitelpang inilah yang kemudian menurunkan Sitanggang dan Sigalingging.

Maka tidak heran terjadi perselisihan siapa yang lebih tua antara Simbolon dengan Sitanggang. Jika mengikut siapa yang pertama lahir maka Simbolon yang tertua. Namun jika mengikut urutan istri maka Raja Sitelpang (Sitanggang) yang lebih tua. Oleh sebab itu banyak Sitanggang yang tidak mau masuk Parna yang nota bene mengakui Simbolon sebagai yang tertua.

Versi ini pada bagian tertentu, khususnya mengenai Raja Siambaton (?) saya lupa-lupa ingat. Apakah Raja Sitelpang dari urutan Nai Ambaton atau dari urutan lainnya? Saya kurang begitu jelas (maklum sudah lupa).

2. Versi mengenai Hubungan Sidauruk dengan Turnip dan Sitio:

Versi mengenai Sitanggang Silo adalah sama dan benar menurut Parporata, namun mengenai keturunannya sangat berbeda dengan versi ini. Sidauruk dengan Turnip dan Sitio tidak memiliki hubungan darah tetapi hubungan padan. Oleh sebab itu di beberapa daerah punguan Sitolu Tali (Sidauruk, Turnip Sitio) telah bubar dan Sidauruk masuk dalam Sitanggang (Parporata) sebaliknya Turnip dan sitio masuk dalam Munte. Di kota saya punguan ini juga telah bubar.

Versi yang menjadi landasan adalah: Sitanggang Silo melarikan diri oleh sebab kecemburuan saudaranya yang lain dan kemudian menjadi marga Sidauruk, dan adiknya yang lahir kemudian mewarisi tanah yang ditinggalnya untuk kemudian membawakan Sitanggang Silo yang kita kenal sekarang. Sidauruk ini kemudian marpadan dengan Turnip dan Sitio dengan ikatan sama dengan saudara kandung dan tinggal di kampung kita Simanindo. Sitanggang Silo di kota saya mengakui bahwa marga Sidaruk lebih tua (siakkangan) dari mereka.

Mengenai padan ini dapat kita perjelas sambil ziarah ke juru kunci aek Situkko di Pea Jolo (saya cuma satu kali ke sana sewaktu SMP untuk ambil air bagi perobatan bapak saya dan air itu sangat manjur!). Urutan aeknya menggambarkan urutan status siakkangan yakni aek Si Tukko Ihur-ihur untuk marga Sitio paling bawah (sepertinya telah kering), aek Si Tukko Tonga-tonga untuk Turnip (juga telah kering), dan paling atas aek Si Tukko Bona-bona untuk Sidauruk (masih mengalir hingga sekarang).

Selain itu, jika ada yang keberatan, silahkan jawab pertanyaan berikut: Sesuai dengan urutan keturunan munte, dari sitonggor mana kita marga Sidauruk ? Silahkan tunjukkan jika memang ada.

Maaf kalau salah istilah Bataknya, saya masih belajar.

2. Versi mengenai Hubungan Sidauruk dengan Simanihuruk:

Versi mengenai Simanihuruk adalah sebagai berikut:

Marga Simanihuruk bukan adik dari Sidauruk tetapi merupakan keturunan Sidauruk dari garis keturunan Op. Jaimbo. Simanihuruk merupakan cucu dari Op. Jaimbo yang mamaknya Br. Manik.

Ada versi kontra yang menyebutkan jika Simanihuruk adalah turunan dari marga Sidauruk, kenapa lebih banyak yang terlihat marga Simanihuruk? Hal inilah yang landasan bagi penulis buku (yang nota bene dari marga lain) untuk menjelaskan posisi Sidauruk berada dibawah marga-marga lainnya. Oleh sebab itu sering ditulis berbagai versi seperti (1) Sidauruk adalah keturunan Simanihuruk; (2) Sidauruk adik Simanihuruk; Simanihuruk adik Sidauruk (versi diatas); dan lainnya. Dan silsilah dari para penulis inilah yang membuat tarombo kita menjadi semakin kacau. Jika ada marga Simanuhuruk yang bersikeras mengenai hal diatas, dapat dijawab dengan mudah: Pada garis silsilah mana mereka di Sitanggang (harus dikonfirmasi kepada Sitanggangnya dan bukan pernyataan sendiri) atau pada garis silsilah mana mereka di Parna (konfirmasi dengan marga yang berhubungan).

Sitanggang Silo menyatakan bahwa marga kita sederajat dengan mereka dalam posisi si Akkangan dan tidak mengakui Simanihuruk,sebagai garis sederajat dalam silsilah serta tidak mengakui Turnip, dan Sitio. Jika demikian, dari aman jalannya Simanihuruk bisa sederajat atau jadi moyang atau jadi siabangan dari Sidauruk. Silahkan konfirmasikan kembali ke Parporata.

Satu hal yang perlu kita analisa mengenai sedikitnya marga Sidauruk yang terlihat adalah sebagai berikut:

Marga kita merupakan marga yang banyak hilang silsilah/maupun identitasnya oleh sebab berbagai hal, misalnya merantau, adopsi, adaptasi, atau oleh sebab lainnya. Jadi tidak heran banyak Sidauruk menggunakan Saragi atau Saragih sebagai marganya. Selain itu, jika kita cermati dengan banyak bertanya pada orang-orang dari Parna, jangan terkejut jika mereka mengatakan bahwa mereka sebenarnya Sidauruk. Saya sendiri mengalaminya. Saya pernah bertemu beberapa orang bermarga Sumbayak, Sigalingging, dan Garingging yang kemudian mengaku mereka (orang-orang tersebut) sebenar bermarga Sidauruk yang moyangnya dulu merantau ke tanah marga-marga tersebut. Kasus lain yang cukup ekstrim pernah juga saya alami. Sewaktu kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta saya rekan kuliah beda kampus (beliau dari jurusan etnomusikologi) yang identitasnya menggunakan marga Simatupang namun ternyata dia bermarga Sidauruk. Penyebabnya adalah yang bersangkutan dibuat mamaknya ikut marga bapak tirinya, dan dikemudian hari baru dia tahu marga asli mendiang bapaknya. KTP sudah terlanjur salah marga. Jika dimasa modern saja masih terjadi, bagaimana pula dimasa lalu?

Penutup

Jadi begitulah beberapa versi lain mengenai marga kita sebagai tambahan Doc ini. Perlu saya ingatkan juga agar waspada dan berhati-hati menganalisa silsilah marga kita jika hal tersebut bersumber dari buku oleh penulis marga lain. Terlalu banyak hal bertentangan, dan marga kita cenderung dikecilkan dalam versi mereka. Pengakuan posisi marga kita dalam Parorata sendiri pada awalnya mengalami banyak perdebatan antara sesama sitanggang yang yang tidak mau memberikan tanahnya sesuai versi diatas. Waktu itu, Sitanggang Upar dan Sitanggang Silo yang mempertahankan mengenai versi yang saya terangkan ini.

Saya tidak menyatakan atau memaksakan bahwa versi ini pasti benar, tetapi saya hanya menyampaikan alternatif versi yang beredar dikalangan Parporata maupun parna terkait (Parna yang mengakui Parporata) untuk menambah pengetahuan kita.


Polemik penggunaan SARAGI/H sebagai marga dari sebagian Pomparan Sidauruk

Polemik penggunaan identitas Saragi dikalangan keturunan Sidauruk pada dasarnya merupakan salah satu aspek fenomenal yang pada akhirnya membuat banyak kerancuan dalam proses penelusuran silsilah dalam sistem tarombo marga kita. Banyak faktor yang menyebabkan terjadi hal ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya, misalnya oleh sebab merantau, adopsi, adaptasi, atau oleh sebab lainnya. Hal ini tentu saja sangat manusiawi jika ditinjau berdasarkan perspektif sosial kemasyarakatan. Namun akan menjadi sebuah polemik jika fenomena tersebut tetap dipertahankan dalam lintas generasi.
Salah satu resiko yang ada adalah hilangnya berbagai fakta empiris yang dibutuhkan pada saat generasi berikutnya berupaya untuk menelusuri asal-usulnya dalam silsilah Sidauruk. Perlu di ingat, penggunaan marga Saragi / Saragih merupakan identitas konstekstual yang umum dikalangan marga-marga sesama PARNA sebagai bagian dari proses ikatan adaptasi dan sosialisasi diantara sesama turunan Nai-Ambaton. Dalam geneogram (diagram silsilah) Parna, ada Saragi Tua sebagai salah satu proto-geneologi (nenek moyang dalam urutan tertinggi) yang menurunkan beberapa marga dari PARNA, dan oleh sebab adanya fenomena penggunaan marga Saragi sebagai identitas konstekstual dikalangan PARNA, pada ujungnya menimbukan kerancuan bagi banyak pihak dari kalangan eksternal PARNA.
Kerancuan ini diantaranya, (1) ada yang mengira bahwa PARNA adalah keturunan Saragi Tua atau (2) ada yang mengira bahwa berbagai marga Parna yang menggunakan identitas saragi sebagai identitas alternatif merupakan keturunan langsung dari Saragi Tua. Inilah contoh implikatif dari fenomena penggunaan identitas Saragi bagi kalangan marga-marga yang bukan keturunan Saragi Tua.
Satu lagi yang perlu diingat mengenai penggunaan identitas Saragi adalah mengenai keabsahan Identitas silsilah marga dari pengguna tersebut. Identitas Saragi merupakan identitas kolektif yang digunakan oleh sebagian besar kalangan PARNA pada saat bersosialisasi dengan pihak eksternal. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam konteks internal PARNA maupun jika ditanya lebih lanjut oleh pihak eksternal, masing-masing pengguna masih menggunakan identitas berdasarkan marga aslinya agar terdapat kejelasan identitas dalam struktur geneogram PARNA. Salah satu contohnya, jika kita bertemu dengan seseorang yang menggunakan marga saragi/saragih, bila ditanya lebih lanjut yang bersangkutan tentu akan memberikan identitas marga aslinya dibelakang identitas kolektif tersebut (saragi/saragih). Jadi sangat aneh bukan jika dikalangan marga kita ada yang mengira dapat menggunakan identitas kolektif (saragi/saragih) sebagai identitas pribadi pada saat bersosialisasi dikalangan internal PARNA. Hal ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang terkait.
Jadi dalam menyikapi fenomena tersebut, tentu saja kita tidak dapat melarang saudara-saudara kita menggunakan identitas Saragi/h oleh sebab hal tersebut merupakan kebebasan mereka sebagai manusia, namun tidak ada salahnya kita menyarankan kepada mereka agar yang terbaik adalah menggunakan marga asli dengan landasan persuasif berdasarkan wacana diatas. Termasuk kecintaan akan bona pasogit(pencarian silsilah asli di samosir) dan pemendaran jati diri yang sebenarnya.

Mauliate jala Horas ma dihita.
 

Sabtu, 30 April 2011

Silsilah dan Tarombo Batak dari Si Raja Batak

Silsilah dan Tarombo Batak dari Si Raja Batak

Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Tatea Bulan artinya "Tertayang Bulan" = "Tertatang Bulan". Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN
* RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.


* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

1. Datu Dalu (Sahangmaima).
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
2. Tinendang, Tangkar.
3. Matondang.
4. Saruksuk.
5. Tarihoran.
6. Parapat.
7. Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Malau
2. Manik
3. Ambarita
4. Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Raja Isumbaon
 
TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
2. Si Paet Tua.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
4. Si Raja Oloan.
5. Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
3. Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sihaloho.
2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
4. Sidabutar.
5. Sidabariba, Solia.
6. Sidebang, Boliala.
7. Pintubatu, Sigiro.
8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
3. Bangkara.
4. Sinambela, Dairi.
5. Sihite, Sileang.
6. Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Maha.
2. Sambo.
3. Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sitompul.
2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***

DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"

artinya:

"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
1. Marbun dengan Sihotang
2. Panjaitan dengan Manullang
3. Tampubolon dengan Sitompul.
4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
5. Nahampun dengan Situmorang.
(Disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987)

PATIK NI BATAK

PATIK NI BATAK

PATIK NI NA TONGKA
TONGKA ALLANGON INDAHAN NI NAPINAROROT

Pantang memakan makanan anak yang diasuh


Tongka
, pantang. Allang, makan, mangallang, memakan, indahan, nasi, napinarorot, yang diasuh.
Pantang bagi pemimpin melakukan tindakan yang menyelewengkan hak-hak masyarakat yang mengakibatkan kemiskinan dan kelaparan.
IJUR TARPISTAK, PAT TARDEGE, TONGKA MASIPAIHUTIHUTAN.

Hindarkan melakukan kesalahan berturut-turut.
Ijur, ludah. Tarpistak, muncrat. Pat, kaki. Tardege, terpijak. Masipaihutihutan, saling mengikuti.
Ludah muncratkepada orang lain, dan kakinya pun dipijak adalah dua kesalahan sekaligus. Di ibaratkan kepada perbuatan/ucapan yang mencemari seseorang dan melakukan penganiayaan fisik (yang tidak disengaja).
TONGKA DOHONON GOAR NI BAO

Jangan menyebut nama ipar
Dohonon, menyebut, memanggil. Goar, nama. Bao, ipar (perempuan vs laki-laki).
Pesan ini termasuk untuk tidak sembarang menyebut nama-nama menurut etika adat batak. Menciptakan batasan kebebasan terhadap orang yang patut dijaga kehormatan dan derajatnya dalam stuktur partuturon/kekerabatan. Mengatasi masalah terjadinya penimpangan pergaulan.
PATIK NI NA UNANG
UNANG LANGKAI ABOR MARDURI

Jangan melangkahi tanda larangan yang berduri.
Unang, jangan. Langkai, langkahi. Abor, plang tanda larangan, tali pembatas. Marduri, berduri.
Hindari melakukan tindakan melanggar hukum yang cenderung berdampak tindakan hukum langsung.
UNANG MANGASAHON TOMBOL NI BITIS, TANGKA NI ABARA

Jangan melakukan perbuatan yang menganggarkan kekuatan fisik kepada orang lain yang lemah.
Mangasahon, mengandalkan. Tombol, bulat keras. Bitis. Betis, otot. Tangka, lebar dan kuat. Abara, pundak.
Hindari perbuatan dengan mengandalkan kekuatan kekuasaan, harta dan kekuasaan untuk mengecutkan pihak yang lemah hingga kalah semangat memperjuangkan kebenarannya.
UNANG PADOMU PARDEBATAAN TU PARSUMANGOTAN

Pisahkan perbuatan antara perbuatan penghormatan kepada para dewata dan penghormatan kepada leluhur.
Padomu, campur. Pardebataan, suasana yang khusus untuk perbuatan persembahan kepada pencipta (mulajadi nabolon). Tu, ke, dengan. Sumangot, semangat, nama besar leluhur. Parsumangotan, suasana penghormatan kepada leluhur.
Memampukan berpikir dan bertindak membedakan tata laksana persembahan kepada pencipta dan penghormatan kepada arwah leluhur.
UNANG PANGUNSANDEI HANDANG NABURUK

Jangan bersandar di pagar yang sudah lapuk
Mangunsande, bersandar. Pangunsandei, sandari. Handang, pagar. Naburuk, yang sudah tua, lapuk.
Jangan berpedoman kepada aturan hukum yang sudah tidak berlaku lagi seiring dengan sudah adanya aturan hukum yang baru (pengganti, penyempurna).
UNANG ALLANG INDAHAN SIAN TORU NI RERE

Jangan memakan makanan dari hasil terselubung.
Sian, dari. Toru, bawah. Rere, tikar
Menghindari perbuatan menikmati hasil dari pekerjaan penipuan, pembohongan dan kelicikan.
UNANG MAMOGO JAMBAR NI DONGAN

Jangan mengambil bagian/hak orang lain.
Mamogo, mengambil alih (dengan cara bohong,) Jambar, bagian. Dongan, teman.
Menghindari cara licik yang menghilangkan hak orang lain.
UNANG BINAHEN RIPE-RIPE PANGUMPOLAN

Jangan membuat harta bersama menjadi pribadi.
Binahen, dibuat, dilakukan. Ripe-ripe, milik bersama, kongsi. Pangumpolan, hak sendiri.
Hindari perbuatan licik yang mengakibatkan kepemilikan bersama beralih menjadi milik pribadi.
PATIK NI NA SO JADI
DANG JADI TUNJANGON PANGHEHEI

Jangan menendang orang yang sudah membantun mengangkat beban sendiri.
Dang jadi, tidak bisa, dilarang (keras), tunjangon, ditendang (dengan kaki). Panghehei, orang yang membantun menopang beban ke pundak.
Dilarang melakukan tindakan kejahatan kepada orang yang sudah melakukan bantuan kepada diri kita sendiri dengan menendangnya dari posisi dimana dia pernah melakukan bantuan.
DANG JADI DANGGURON PANGALAPI

Jangan melempari orang yang bermaksud memberi berita (kabar).
Dangguron, melempar, sesuatu arah yang dilempar. Pangalapi, orang yang bertindak melakukan undangan.
DANG JADI BAJOON PANOMU

Jangan menganiaya orang yang menjemput.
Bajo, aniaya. Bajoon, tindakan menganiaya. Panomu, orang yang menjemput.
DANG JADI DOBOON UGASAN LUME.

Jangan meniadakan harta yang disimpankan, (ternak) yang dipeliharakan.
Dobo, meniadakan. Ugasan, harta benda. Lume, menyimpankan, memeliharakan.
Dilarang melakukan pembohongan akan harta orang lain yang pernah disimpankan atau ternak yang dipeliharakan.
DANG JADI LANGKUPON (RIPE NI, HATA NI) DONGAN

Langkup
, jinah (bila melakukan perbuatan terlarang kepada suami atau isteri orang lain), menyembunyikan kebenaran orang lain dengan cara menonjolkan kebenaran sendiri. Dongan, teman, orang lain.
Dilarang mendahulukan kepentingan diri sendiri dengan dampak menyakitkan, merugikan kepada orang lain. Melampiaskan hasrat kepada seseorang yang hukan haknya. Melakukan pembenaran diri sendiri dengan menutupi kebenaran pihak lawan.
DANG JADI LILUHONON NAMAPITUNG

Jangan menyesatkan orang buta.
Lilu, sesat. Mangaliluhon, menyesatkan. Liluhonon, membuat seseorang tersesat. Namapitung, orang yang buta.
Dilarang melakukan perbuatan menyesatkan kepada orang yang buta sesuatu karena kebodohan dan ketidak tahuan, sehingga menimbulkan dampak buruk yang merugikan dan mencelakakan.
DANG JADI PIS MATA DI NAMARNIANG

Jangan nista kepada yang berbadan kurus.
Pis, menistakan, cuek. Marniang, kurus badan.
Dilarang melakukan tindakan menistakan orang yang terlihat kurus, miskin dan nista.
DANG JADI PAURU-URUON PARSIANTABOLON

Jangan mengejek orang berpakaian kumal
Pauru-uru, ejek. Parsiantabolon, yang berpakaian sobek, penuh tambalan, kumal.
Dilarang mengejek orang lain atas kemiskinannya. Dilarang mengejek orang lain atas kepedihan hidupnya. Dilarang mengejek orang karena keterbelakangan pikirannya.
DANG JADI MANANGKO DANG JADI PANANGKOAN

Jangan mencuri dan jangan kecurian
Manangko, mencuri.
Dilarang melakukan tindakan merugikan orang lain dengan mencuri barang (harta bendanya). Lakikan pengawasan terhadap harta benda agar tidak terjadi niat orang lain melakukan pencurian.
DANG JADI MAMUNU JOLMA.

Jangan membunuh sesama manusia.
Mamunu, membunuh. Jolma, manusia.
Ketiga bagian PATIK Batak ini adalah rambu utama menata perilaku manusia yang beradab. Ketiga patik ini sangat banyak sebenarnya yang tidak sempat kami uraikan disini, tapi setidaknya ada pengantar kepada dunia sebagai pernyataan bahwa (kami) batak sejak dulu sudah dalam peradaban yang terpuji, namun ada kekuatan lain mengancam dan mencemoh seolah leluhur kami itu kanibal dan sesat.
Pengertian yang lebih luas kelak akan dibahas dan mungkin diantara kita ada yang memberikan kontribusi untuk menjelaskannya. Kami tunggu.